The Lover
Kau pernah sekali berada di sini
Mengajarku melukis raut sunyi
Mengharapku kan selalu datang
Membawa utaian cerita cinta terpanjang
Kau pernah terlalu sederhana
Memiliki rasa sayang itu
Kerna kalutmu mengungkap resah
Dan dinginmu mengikatmu kemas
Seperti irama cinta ini mulai melirih
Namun getar senyummu itu padaku
Pernah bisa menghidupkan hari-hari suramku yang lalu
Aku pernah menjadi seseorang kepadamu
Teman yang bukan teman
Tapi bimbang terus akanmu
Kekasih yang kau sendiri tahu
Tapi hanya kau yang tahu
Aku pernah selalu kau biarkan
Dan pernah selalu bersedih kerana itu
Tapi aku masih selalu ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
Aku masih selalu ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu
Aku pernah begitu mencintaimu
Dan memutus untuk percuma begitu
Kerna jiwaku tak mampu memaknai hidup tanpa rasa itu
Biarpun semuanya bukan pernah semudah yang kau kira
Cinta
ketika dingin menghantar suara hatiku padamu
Yang melewati puncak akalmu memikir
Yang membawa pesan ini untukmu
kau seperti malam
yang datang tiba-tiba
ketika aku berjalan
tanpa sesiapa bersama
Ketika rasa takut ini datang
siapa lagi yang bisa membangkitkan keberanian selain engkau
ketika rasa putus asa ini datang
siapa lagi yang akan menumbuhkan harapan selain engkau
ketika angin timur tak menyejukkanku lagi
ketika pepohonan yang rendang tak lagi memayungiku dari terik siang
ketika seluruh hidup yang kurasakan adalah penderitaan
cukupkah sampai di sini keinginan tak akan ada habisnya?
kepuasan tak akan ada hujungnya?
cukupkah sampai di sini pesta kemenangan merayakan kekalahan diri sendiri?
ketika kumenemukan cinta
cinta itu mulai menanamkan sebuah harapan kehidupan untukku
ketika ku terhayal untuk bersama denganmu kembali
merindukan dirimu di sampingku
walau engkau teramat jauh tak terkejar
ternyata aku salah...
betapa telah lama kau tinggalkan kerinduan di hatiku
betapa sekian lama aku terikat dengan kesedihan ini
saat aku tertidur
cinta itu tetap membuat bayangmu berada di seluruh mimpi-mimpi
Dan semuanya membuatku ingin bertanyaMu lagi tuhan,
kenapakah aku teramat menderita untuk rasa sakit ini?
Ku katakan padamu
Sulit memahami manusia
Mengungkap kesedihan dengan tangis
Mengungkap kebahagiaan dengan tawa
Tetapi keduanya menitiskan air mata
Menurutmu cinta adalah jawapan akhir dari segalanya
Tapi bagiku, penolakan bukan hukuman mati bagi yang terdakwa
Ianya seperti kebangkitan setelah mati
Mengawali hidup dengan rasa sakit, menjalani hidup dengan rasa sakit,
dan mengakhiri hidup dengan rasa sakit
Mengawali cinta dengan harapan, menjalani cinta dengan kekhuatiran,
dan mengakhiri cinta dengan kekecewaan
Jika awal cinta indah mengapa tidak pada awal dan akhir ceritanya ?
kesedihan didalamnya pun indah jika benar-benar mencintai
kerana kesunyiaan takkan pernah ada perceraian
Kau yang jauh dari cinta membeku seperti salju
dan aku yang terlalu dekat dengan cinta akan menangis seperti awan
Jika enggan untuk bicara
Diam akan katakan lebih dari maksudnya
Jika kau keliru kerna aku tak lagi bisa mengabulkan hajatmu kesemuanya
Anggapalah aku membidikkan panah tidak tepat pada sasarannya
Jika masih sulit untuk percaya, pejamkan matamu
Jangan takut tajamnya pena
Yang tak mungkin menghiris urat nadi
Aku hanya bercermin padamu
Dan belum pernah siap untuk pergi darimu
Walau aku meriba doa menunggumu
Perjalanan Separuh Kerinduan
Haruskah geliat rindu yang kau simpan
pada getar dawai hati, bening kilau embun dan segaris cahaya pagi
membuatmu mesti berhenti pada sebuah titik yang kau namakan
tepian sebuah perjalanan panjang?
Kegetiran ini, katamu, melelahkan
dan membuatmu
kerap terkulai tanpa daya menggapai asa di lereng langit
yang telah beku dicekam gigil kangen lalu luruh satu-satu
serupa hujan membasahi belantara tak berujung
Memori yang telah kita pahat rapi pada dinding kenangan
adalah rumah tempat kita pulang dan berteduh dari reruntuhan musim,
kisah cinta yang absurd juga wadah atas segala kegagahan kita
untuk tetap bertahan dari bentangan jarak dan waktu
Pada akhirnya, hasrat itu akan kita titipkan bersama pada bentang bianglala
lantas menikmatinya, seraya berucap lirih:
“Jejak itu akan ada disana, dalam keindahan dan kepahitan, dalam kehilangan dan keberadaan,
dalam rindu yang menjelma
menjadi remah-remah berpendar terang yang jatuh sepanjang perjalanan”
SENANDUNG SEKEPING KEHENINGAN
Kita tak akan pernah bisa menyepuh ulang segala impian
dan kenangan yang meranggas perlahan di ringkih hati
lalu menyemai harap, segalanya akan kembali seperti semula
“Karena apa yang tertinggal,” katamu,”seperti sisa jejak kaki
di bibir pantai yang lenyap terhapus hempasan ombak”
Kita hanya akan bisa bersenandung merepih pilu
Dan membuat segenap angan terbang liar mencabik cakrawala
seraya menyimpan segala asa dan rindu
pada diam,
pada keheningan
pada lagu lama yang kita lantunkan
dan bergema lirih hingga ke sudut sepi sanubari
“Karena apa yang kini ada”, ucapmu lagi,”Adalah tempat dimana
angin segala musim bertiup dan arus semua sungai bermuara yang kerap
membuat kita gamang pada pilihan : meniti samar masa depan ataukah
menggenggam nostalgia dan ikut karam bersamanya”
JIKA SUATU KETIKA KITA TAK BERSAMA LAGI…
Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kau mengenang
segala kisah tentang kita
yang telah terpahat rapi di rangka langit
bersama segenap noktah-noktah peristiwa
juga canda dan pertengkaran-perteng karan kecil
yang mewarnai seluruh perjalanan kita
Dalam Lengang, Tanpa Kata
Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kau tetap menyimpan
setiap denyut nadi yang berdetak
dan degup cepat debar jantung
saat mataku memaku matamu
disela derai gerimis menyapu beranda
kala kita pertama bertemu di temaram senja
Dalam Sepi, Tanpa Suara
Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kita meletakkan segala perih itu
disini, pada titik dimana kita akan berbalik
dan menyimpan senyum dibelakang punggung masing-masing
lalu membiarkan waktu menggelindingkannya
hingga batas cakrawala
bersama sesak rindu tertahan didada
Dalam Diam, Tanpa Airmata
Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin cinta itu tetap tersimpan rapi
pada larik bianglala, pada hujan, pada deru kereta,
pada embun di rerumputan, pada pucuk pepohonan
sembari memetik mimpi yang telah kita sematkan disana
lalu mendekapnya perlahan
Dalam Sunyi, Tanpa Cahaya
Jika Suatu Ketika Kita Tak Bersama Lagi
Aku ingin kita akan tetap saling menyapa
lalu merajut angan kembali
seraya meniti ulang segala jejak yang sudah kita tinggalkan
lantas menyadari bahwa menjadi tua adalah niscaya
dan untuk itu kita tak perlu ambil peduli
karena kita tahu
Dalam Lengang, Tanpa Kata
Dalam Sepi, Tanpa Suara
Dalam Diam, Tanpa Airmata
Dalam Sunyi, Tanpa Cahaya
Ada Bahagia
Untuk Kita
Hanya Kita…
SAAT INDAH MENGENANGMU
Kenangan itu selalu berjalan tertatih dalam benak
meniti sebuah perjalanan panjang tentang sebuah rasa yang tertinggal
pada relung hati dimana sunyi bersemayam bersama rindu
“Kadangkala,” katamu,”pada lirih sajak yang kuterbangkan bersama angin
senantiasa ada harap disana untuk menghampirimu di suatu ketika
sembari bercerita tentang janji, obsesi memiliki juga cinta”
Ah, belahan jiwaku,
Pesonamu selalu memercik pada riuh rendah pundak Malioboro,
denting syahdu gamelan, warna coklat tua gudeg yang nikmat,
gemulai penari keraton, pepohonan rindang di hutan dan
keramaian pasar terkenal.
Kamu ada, bersama segala keindahan yang menyertai
gigil kangen saat angin lembut yang membawa sajakmu
menerpa kalbu, perlahan, saat mengenangmu, saat mengingatmu
0 komentar:
Posting Komentar